Oleh: Erna Febru Aries S. | 8 Februari 2008

Latar Belakang Merupakan Paparan Mengapa Penelitian yang Dipilih Menjadi Penting dan Mendesak untuk Diteliti

Ini adalah satu contoh bentuk latar belakang dalam penelitian bahasa Fokus pada keterampilan menulis

Pembelajaran bahasa Indonesia terintegrasi dalam empat keterampilan berbahasa. Salah satu keterampilan berbahasa yang cukup kompleks adalah menulis. Keterampilan menulis diajarkan dengan tujuan agar siswa mempunyai kemampuan dalam menuangkan ide, gagasan, pikiran, pengalaman, dan pendapatnya dengan benar. Menulis merupakan kegiatan yang paling kompleks untuk dipelajari dan diajarkan (Farris, 1993).

Dalam menulis seorang penulis dituntut mampu menerapkan sejumlah keterampilan sekaligus. Sebelum menulis perlu membuat perencanaan, misalnya, menyeleksi topik, menata, dan mengorganisasikan gagasan, serta mempertimbangkan bentuk tulisan sesuai dengan calon pembacanya. Pada saat menungkan ide, penulis perlu menyajikannya secara teratur. Begitu juga penggunaan aspek kebahasaan seperti bentukan kata, diksi, dan kalimat perlu disusun secara efektif. Penerapan ejaan dan tanda baca perlu dilakukan secara tepat dan fungsional. Sejumlah keterampilan tersebut menjadi bukti betapa kompleksnya keterampilan menulis.

Mengacu pada ciri keberlangsungannya, menulis dapat dipandang sebagai (1) sebuah proses, (2) kegiatan bernalar, (3) kegiatan transformasi, (4) kegiatan berkomunikasi, (5) suatu keterampilan. Ciri pertama menulis sebagai sebuah proses; menulis berisi serangkaian kegiatan menyusun rencana (perencanaan), menulis draf (pengedrafan), memperbaiki draf (perbaikan), menyunting draf (penyuntingan), dan publikasi. Sub-sub keterampilan menulis itu tidak dapat dikuasai seketika, tetapi secara bertahap. Seperti membaca, keberhasilan pembinaan menulis pada suatu tahap akan menjadi kunci keberhasilan pembinaan menulis pada tahap berikutnya.

Kedua, menulis merupakan kegiatan bernalar. Penggunaan penalaran dalam menulis tampak ketika penulis memilih dan mengembangkan topik, serta menyusun kerangka karangan. Begitu juga ketika penulis mengembangnkan kerangka karangan menjadi draf, memperbaiki tatanan isi, dan menghaluskan penggunaan aspek mekanik.

Ketiga, sebagai kegiatan transformasi; dalam menulis diperlukan dua kompetensi dasar, yaitu kompetensi mengelola cipta, rasa, dan karsa, serta kompetensi memformulasikan tiga hal itu ke dalam bahasa tulis. Dalam kompetensi pertama tercakup penguasaan penulis terhadap substansi, ruang lingkup, sera sistematika permasalahan yang akan ditulis. Kompetensi kedua berkenaan dengan kemampuan menggunakan bahasa tulis, misalnya penguasaan kaidah ortografi, bentukan kata, kalimat dan seterusnya.

Keempat, menulis merupakan kegiatan berkomunikasi. Seperti halnya berbicara, menulis tidak hanya ditujukan pada diri sendiri. Ketika menulis, penulis perlu mempertimbangkan siapa calon pembacanya. Menulis untuk tujuan apa, dimana, kapan, dan seterusnya. Semua aspek itu perlu dipertimbangkan agar tulisan yang disusun benar-benar komunikatif.

Sebagai sebuah keterampilan, menulis memiliki sifat seperti keterampilan berbahasa yang lain. Untuk itu, menulis perlu dilatihkan secara sering dan ajek. Keseringan dan keajekan dalam latihan menulis memberikan peluang agar tulisan berkualitas lebih baik. Latihan-latihan yang dilakukan diharapkan menunjang pencapaian target menulis yang diharapkan. Latihan dalam menulis sebaiknya berlangsung dalam konteks aktual dan fungsional agar tugas menulis dapat memberikan manfaat secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di sekolah dasar keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang ditekankan pembinaannya, disamping membaca dan berhitung. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) ditegaskan bahwa siswa sekolah dasar perlu belajar bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam berkomunikasi dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis. Keterampilan menulis di sekolah dasar dibedakan atas keterampilan menulis permulaan dan keterampilan menulis lanjut. Keterampilan menulis permulaan ditekankan pada kegiatan menulis dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh, melengkapi, menyalin, dikte, melengkapi cerita, dan menyalin puisi. Sedangkan pada keterampilan menulis lanjut diarahkan pada menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk percakapan, petunjuk, dan cerita.

BACA SELENGKAPNYA DI BUKU “ DESIGN ACTION RESEARCH” KARYA “ERNA FEBRU ARIES S.,“ SUDAH DILENGKAPI DENGAN CONTOH-CONTOH LAPORAN PENELITIAN LENGKAP …. HUBUNGI SEGERA 081 803 802 797

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: