Oleh: Erna Febru Aries S. | 8 Februari 2008

PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN TINDAKAN

Masalah adalah kesenjangan (discrepancy) antara apa yang seharusnya (harapan) dengan apa yang ada dalam kenyataan sekarang. Kesenjangan tersebut dapat mengacu ke ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Penelitian diharapkan mampu mengantisipasi kesenjangan-kesenjangan tersebut. Masalah yang perlu dijawab melalui penelitian cukup banyak dan bervariasi misalnya masalah dalam bidang pendidikan saja dapat dikategorikan menjadi beberapa sudut tinjauan yaitu masalah kualitas, pemerataan, relevansi dan efisiensi pendidikan (Riyanto, 2001:1) Salah satu jenis penelitian dalam bidang pendidikan adalah peneltian tindakan, yang dilakukan dengan menerapkan metode-metode pengajaran ketika proses belajar berlangsung di kelas dengan harapan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Peneliti dalam penelitian tindakan ialah melakukan identifikasi dan membuat perumusan masalah yang memungkinkan diteliti lewat penelitian tindakan (Depdikbud, 1999:11). Lebih lanjut dikemukakan bahwa kedudukan perumusan atau formulasi masalah penelitian merupakan suatu langkah awal yang menentukan keberhasilan langkah-langkah selanjutnya. Orang menyatakan bahwa jika peneliti berhasil merumuskan masalah penelitian dengan baik dan benar, berarti ia telah melampaui separo jalan. Dengan rumusan masalah yang jelas dan tajam, maka peneliti akan mampu meletakkan dasar teori dan atau kerangka konseptual pemecahan masalah, hipotesis tindakan akan dapat dirumuskan karena berdasarkan rumusan masalah dapat diidentifikasi dan ditetapkan alternatif solusinya atau tindakan tepat yang perlu dilakukan. Demikian pula data apa yang harus dikumpulkan untuk mengkaji atau sebagai bahan refleksi atas tindakan yang telah dan sedang dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik sesuai dengan apa yang diharapkannya dalam penelitian tindakan.

Perlu disadari bahwa masalah penelitian tindakan mempunyai ciri atau karakteristik yang berbeda dengan penelitian konvensional yang biasa dilakukan para peneliti pendidikan di perguruan tinggi. Peneliti tidak berada di luar apa yang diteliti, tetapi berada di dalamnya (as an inquiry on practice from within), di mana guru sebagai peneliti terlibat langsung dalam pelaksanaan penelitian tindakan. Oleh karena itu, diharapkan dengan memilih masalah yang tepat, guru sebagai peneliti selain dapat melakukan perbaikan, peningkatan dan atau perubahan proses pembelajaran yang lebih baik, berdampak pula terhadap diri guru, yaitu menumbuhkan sikap dan kemauan untuk selalu berupaya memperbaiki, meningkatkan dan melakukan perubahan atau timbulnya budaya berdinamika dan menimbulkan budaya untuk meneliti atau menjadikan dirinya sebagai guru peneliti (teacher as researcher in his/ her classroom).

 

B. PENGERTIAN UMUM

Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah atau di dalam kelas guru tidak akan bebas dari permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran. Masalah yang muncul mungkin sederhana, tetapi bisa juga kompleks yaitu masalah yang dihadapi siswa secara individual, kelompok ataupun yang secara umum dialami oleh setiap guru, atau siswa. Misalnya seorang guru yang mengajar bahasa, sekalipun ia telah berusaha menerapkan konsep-konsep dengan cara yang dipandang efektif, namun ternyata siswa tidak mampu memahami dengan baik dan terjadi kesalahan pemahaman. ini menunjukkan adanya kesenjangan antara apa yang terjadi dengan apa yang ia harapkan atau antara “what should be dengan what it is”.

Ada kemungkinan para peserta didik tidak merespons seperti yang diharapkan atau ada kemungkinan peserta didik kurang memahami apa yang sedang dikemukakan atau ditanyakan, atau kemungkinan lain suasana kelas kurang kondusif untuk pembelajaran yang sedang berlangsung, atau pun ada sebab-sebab lainnya. Inilah suatu pertanda, bahwa ada persoalan dalam pembelajaran, dan sebaiknya guru atau dosen memberikan perhatian terhadap hal itu. Apabila guru atau dosen memperhatikan adanya suatu kondisi yang tidak seharusnya ada dalam proses pembelajaran, maka dapat dikatakan sudah ditemukan sesuatu yang dapat dijadikan permasalahan penelitian.

Tidak setiap atau semua masalah baik untuk diangkat sebagai masalah untuk penelitian tindakan, yaitu :

a. Masalah itu menunjukkan suatu kesenjangan antara teori dan fakta empirik yang

dirasakan dalam proses pembelajaran atau kesehariannya tugas guru. Guru

merasa prihatin, peduli, dan berniat untuk mengurangi atau menghilangkannya.

b. Adanya kemungkinan untuk dicarikan alternatif solusinya melalui tindakan

konkrit yang dapat dilakukan guru dan siswa.

c. Masalah tersebut memungkinkan dicari dan diidentifikasi hal-hal atau faktor

yang menimbulkannya. Faktor-faktor penentu tersebut merupakan dasar atau

landasan untuk merumuskan alternatif solusi terhadap masalah yang dipilih.

 

Dari paparan tersebut diasumsikan bahwa guru akan mampu memilih masalah yang baik untuk diangkat dalam penelitian tindakan, karena guru yang dalam keseharian melaksanakan tugas merasakan, menghayati adanya dan terjadinya masalah dalam proses pembelajaran di kelasnya.

 

 

 

C. SIGNIFIKANSI MASALAH PENELITIAN TINDAKAN

Pertama, dianjur bahwa masalah yang dipilih untuk diangkat dalam penelitian tindakan adalah masalah yang mempunyai nilai yang bukan sesaat dan memungkinkan diperolehnya model tindakan efektif yang dapat dipakai guna memecahkan masalah yang mirip atau sejenis. Oleh karena itu, peneliti perlu mengkaji seberapa besar tingkat kebermaknaan (signifikansi) permasa1ahan penelitian yang di pilih.

Pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengkaji misalnya sebagai berikut.

  1. Apakah masalah secara jelas teridentifikasi dan terformulasikan dengan benar?

  2. Apakah ada masalah lain yang terkait dengan masalah yang akan dipecahkan? Jika ya apakah menuntut pemecahan tindak segera, dan apakah telah terumuskan secara spesifik jelas?

  3. Apakah ada bukti empirik yang memperlihatkan nilai berharga untuk perbaikan praktek dan perbaikan pembelajaran.

Terhadap pertanyaan pertama, masalah mengindikasikan bahwa dasar teoritik dan konseptual dapat dibangun untuk merumuskan alternatif solusi. Sebab dalam masalah yang telah terumuskan akan menunjukkan keterkaitan faktor satu terhadap lainnya yang menyebabkan timbulnya masalah dan yang seharusnya menurut teori dan konsep tidak akan timbul atau terjadi. Atas dasar faktor tersebut maka dapat dicari dan diajukan alternatif solusi untuk menghilangkan atau mengurangi pengaruh faktor terhadap hasil yang diharapkan.

Kedua, masalah yang diangkat haruslah benar-benar yang hidup, dirasakan dalam tugas keseharian guru. Oleh karena itu, guru akan dapat mengurai, hal-hal atau faktor apa saja yang terkait, dan apakah ada masalah lain yang merupakan ‘pengiring’ yang juga memerlukan tindakan pemecahan. Misal kelambatan memahami bacaan, bisa terkait dengan kemampuan dan penguasaan kosa kata yang kurang, cara dan kebiasaan berpikir, kecepatan membaca dan lain sebagainya. Oleh karena itu, perlu dikaji apakah merupakan permasalahan tunggal ataukah permasalahan ganda dan terkait.

Ketiga, seberapa jauh kebermanfaatan pemecahan masalah yang dilakukan, dilihat dan segi kelangsungan, daya keampuhan serta keterpakaian model tindakan. Model tindakan yang sifatnya sekali pakai, tentu kurang bernilai apalagi jika dampak hasilnya hanya sesaat.

 

D. SUMBER MASALAH

Jika masalah penelitian konvensional peneliti dapat diperoleh dari bahan bacaan, laporan penelitian, makalah, diskusi dan lain sebagainya, dan pencarian dilakukan secara induktif-deduktif, maka masalah penelitian tindakan harus bersumber dari guru sendiri. Harus merupakan hasil refleksi atau masalahnya sendiri dan bukan berasal dan orang lain, misalnya lembaga riset.

Hopkins (dalam Wiriaatmadja, 2007:80), mengemukakan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk menolong mencari fokus permasalahan.

Apa yang sekarang sedang terjadi?

Apakah yang sedang berlangsung itu mengandung permasalahan?

Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasinya?

Saya ingin memperbaiki . . .

Saya mempunyai gagasan yang ingin saya cobakan di kelas . ..

Apa yang dapat saya lakukan dengan hal semacam itu?

Apabila pertanyaan-pertanyaan di atas diperhatikan, dan guru atau dosen menemukan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di kelas, maka benarlah guru atau dosen telah menemukan fokus permasalahan untuk penelitian kelas. Bersiap-siaplah untuk melakukan langkah-langkah selanjutnya. Sebagai contoh, ada beberapa kemungkinan dalam permasalahan yang ditemukan terjadi dalam aspek-aspek pembelajaran seperti:

Suasana kelas yang kurang mendukung kelancaran proses belajar

mengajar.

Metode pembelajaran yang kurang tepat untuk membahas pokok kajian.

Buku teks yang tidak mendukung.

Media pembelajaran yang tidak ada atau kurang.

Sistem penilaian yang tidak sesuai, dan aspek lain yang mungkin dinilai

kurang.

Sebagai contoh, salah satu masalah yang disebutkan di atas ialah sistem penilaian yang kurang tepat sehingga mengganggu proses belajar peserta didik. Hal ini perlu dipikirkan sebagai suatu permasalahan yang mungkin dapat diperiksa melalui tindakan karena memang hal itu tercakup dalam bidang Penelitian Tindakan Kelas, dan guru berpendapat juga bahwa sistem penilaian itu perlu diperbaiki.

Untuk lebih menjelaskan bagaimana mengidentifikasi dan mencari permasalahan dan kemudian dipilih guru atau dosen sebagai fokus masalah yang akan dijadikan bidang penelitian, berikut ini beberapa contoh:

1. Pengembangan model teknik non-tes bentuk inkuiri dalam evaluasi hasil

belajar bahasa Indonesia di kelas 5 SD

2. Upaya meningkatkan keterampilan menulis paragraf induktuf melalui

pendekatan cooperative learning

3. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam berbicara

melalui pembelajaran isu-isu kontroversial

4. Pendekatan inkuiri dalam pembelajaran membaca pemahaman sebagai

upaya untuk menigkatkan proses belajar mengajar dan prestasi akademik

mahasiswa

Banyak hal dalam aspek-aspek yang disebut di atas yang dapat secara terinci terus dikembangkan menjadi fokus permasalahan.

 

E. CARA MELAKUKAN IDENTIFIKASI MASALAH

 

Pada umumnya guru kurang atau belum menyadari bahwa apa yang dihadapi adalah masalah, dan tidak mempermasalahkan. Biasanya sesuatu baru dianggap sebagai masalah jika guru telah merasa kewalahan, tidak berdaya dan tidak mampu menghadapi sendiri. Maka cara yang dapat dilakukan guru

  1. Menuliskan semua hal yang dirasakan memerlukan perhatian, kepedulian karena akan mempunyai dampak yang tidak diharapkan terjadi, terutama terkait dengan pembelajaran; seperti intensitas waktu pembelajaran, penyampaian, daya tangkap dan serap siswa, alat/ media pembelajaran, manajemen kelas, motivasi, sikap dan nilai perilaku siswa, dan lain-lain.

  2. Kemudian dipilahkan dan diklasifikasikan menurut jenis/ bidang permasalahannya, jumlah siswa yang mengalami, dan tingkat frekuensi timbul.

  3. Urutkan dari yang ringan, jarang terjadi, banyaknya siswa mengalami dan masing-masing jenis permasalahannya.

  4. Dari setiap urutan ambillah 3-5 masalah dan coba dikonfirmasikan kepada guru yang mengajar mata pelajaran sejenis, baik di dalam sekolah sendiri atau guru di sekolah lain.

  5. Jika apa yang dirumuskan ternyata mendapat konfirmasi, maka masalah tersebut memang merupakan masalah yang patut untuk diangkat sebagai calon masalah.

  6. Masalah yang telah dikonfirmasi tersebut kemudian dikaji kelayakan dan signifikansiniya untuk dipilih.

  7. Pilihlah fokus permasalahan yang terbatas. yang berukuran kecil, yang dapat dicari solusinya dalam waktu singkat yang tersedia untuk melakukan penelitian tindakan.

  8. Pilihlah fokus permasalahan yang penting untuk diselesaikan bagi kepentingan guru/dosen dan siswa/mahasiswa, dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas/ruang kuliah.

  9. Bekerjalah secara kolaboratif bersama mitra sejawat dalam penelitian ini, tanyalah apakah dia juga pernah menghadapi permasalahan yang semacam dengan masalah yang dihadapi guru/dosen.

  10. Sebaiknya fokus permasalahan yang dipilih relevan dengan tujuan dan rencana perkembangan sekolah atau fakultas secara keseluruhan.

 

 

F. PERUMUSAN MASALAH

Dalam memformulasikan atau merumuskan masalah, kiranya peneliti perlu memperhatikan beberapa ketentuan yang biasanya berlaku yaitu dengan memperhatikan:

1. aspek substansi;

2. aspek formulasi; dan

3. aspek teknis.

Dari sisi aspek substansi atau isi yang terkandung, perlu dilihat dari bobot atau nilai kegunaan manfaat pemecahan masalah melalui tindakan seperti nilai aplikatifnya untuk memecahkan masalah serupa/mirip yang dihadapi guru, kegunaan metodologik dengan diketemukannya model tindakan dan prosedurnya, serta kegunaan teoritik dalam memperkaya atau mengoreksi teori pembelajaran yang berlaku. Sedang dari sisi orisinalitas, apakah pemecahan dengan model tindakan itu merupakan suatu hal baru yang belum pernah dilakukan guru sebelumnya. Jika sudah pernah berarti hanya merupakan pengulangan atau replikasi saja.

Pada aspek formulasi, seyogyanya masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat interogatif (pertanyaan), meskipun tidak dilarang dirumuskan dalam bentuk deklaratif (pernyataan). Hendaknya dalam rumusan masalah tidak terkandung masalah dalam masalah, tetapi lugas menyatakan secara eksplisit dan spesifik tentang apa yang dipermasalahkan.

Dan aspek teknis, menyangkut kemampuan dan kelayakan peneliti untuk melakukan penelitian terhadap masalah yang dipilih. Pertimbangan yang dapat diajukan seperti kemampuan teoritik dan metodologik pembelajaran, penguasaan materi ajar, kemampuan metodologi penelitian tindakan, kemampuan fasilitas untuk melakukan penelitian seperti dana, waktu, tenaga, dan perhatian terhadap masalah yang akan dipecahkan. Oleh karena itu, disarankan untuk berangkat dari permasalahan sederhana tetapi bermakna, guru dapat melakukan di kelasnya dan tidak memerlukan biaya, waktu, dan tenaga yang besar.

 

G. ANALISIS MASALAH

BACA SELENGKAPNYA DI BUKU “ DESIGN ACTION RESEARCH” KARYA “ERNA FEBRU ARIES S.,“ SUDAH DILENGKAPI DENGAN CONTOH-CONTOH LAPORAN PENELITIAN LENGKAP …. HUBUNGI SEGERA 081 803 802 797

About these ads

Responses

  1. Terima kasih, tulisannya cukup membantu pengerjaan tugas saya. Semoga lebih bisa berkarya lagi.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: