Oleh: ardhana12 | Maret 16, 2008

Ayat-ayat Cinta: Eksploitasi Wanita, Persetujuan atas Poligami dan Pelecehan Seksual

Tak mudah memang menjalani hidup dalam berbagai himpitan dan tekanan. Di satu sisi kita harus menerima kenyataan dari sang maha Khalik sepahit apapun kenyataan itu. Di sisi lain kita harus ikhtiar bahwa nasib yang kita terima dapat kita ubah dengan usaha maksimal. Firman Allah SWT setidaknya memberikan harapan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang apabila dalam dirinya tidak ada usaha ke arah perubahan. Demikian halnya cerminan kehidupan yang tersorot dalam film ayat-ayat cinta mengisyaratkan bahwa kehidupan ada sisi pahit getirnya. Seorang perempuan yang terpojokkan dalam pilihan-pilihan yang tidak mengenakan sementara dia harus memilih yang tidak sesuai dengan hati nurani. Ketika

Jika Naguib Mahfuz menulis Mesir dari pandangan orang Mesir, maka Mesir kali ini ditulis dalam pandangan orang Indonesia. Novel ini ditulis oleh orang Indonesia yang paham betul seluk-beluk negeri itu, hingga ke detail-detail yang paling kecil. Ia hidup, berbaur dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari; lalu menyerap spirit dan pengetahuan darinya, dan dituangkan dengan sepenuh hati dalam bentuk novel kaya. Ditulis dengan bahasa yang lancar, dengan tokoh-tokoh yang ‘hidup’ dan berkelebatan dalam berbagai karakter. Membaca novel ini seperti membuka cermin cakrawala yang terbuka…”
cerita yang tidak klise dan tak terduga pada setiap babnya. Habiburrahman El Shirazy dengan sangat menyakinkan mengajak kita menyelusuri lekuk Mesir yang eksotis itu, tanpa lelah. Tak sampai di situ, Ayat-Ayat Cinta mengajak kita untuk lebih jernih, lebih cerdas dalam memahami cakrawala keislaman, kehidupan dan juga cinta.”
Ayat-Ayat Cinta ini membuat angan kita melayang-layang ke negeri seribu menara dan merasakan ‘pelangi’ akhlak yang menghiasi pesona-pesonanya. Sungguh sebuah cerita yang layak dibaca dan disosialisikan pada para pemburu bacaan popular yang sudah tidak mengindahkan akhlak sebagai menu utamanya, agar dunia bacaan kita terhiasi karya-karya yang ‘membangun.’


Tanggapan

  1. ulasan yang bagus…………itu berlaku bagi pelaku poligami yang benar-benar Islamnya sudah kaffah. But faktanya poligami hanya sebagai kedok pemuas nafsu belaka.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori