Oleh: Erna Febru Aries S. | 15 Juli 2010

Konsep Pendidikan Islam

Pendidikan yang baik akan mengarahkan siswa memperoleh ilmu pengetahuan yang seimbang dan terpadu. Sehingga siswa dapat melihat kesatuan alam dan keberagaman fenomena dunia. Pendidikan memiliki tujuan yang mulia di dalam mengembangkan keseimbangan kepribadian anak, baik di dalam berpikir, bersikap maupun bertingkah laku.
Pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha sadar orang dewasa untuk membimbing, mengarahkan atau mengondisikan orang yang belum dewasa agar mencapai kedewasaannya. Pengertian ini masih umum, artinya bentuk kedewasaan yang dimaksud tergantung kepada sistem nilai yang melandasi konsep pendidikan itu sendiri. Bila konsep pendidikan yang hendak dikembangkan berlandaskan sistem Islam, maka bentuk kedewasaan yang dimaksudkan tentu berbeda dengan bentuk kedewasaan yang hendak dikembangkan oleh konsep pendidikan yang berlandaskan sistem yang lain
Islam memandang ilmu pengetahuan sebagai satu keseluruhan yang terintegrasi dan berkorelasi dengan bersumber kepada wahyu Allah subhanahu wata’ala (Al Qur’an dan As Sunnah). Antara ilmu Dien (ilmu agama atau ulum syar’iyah) dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat lainnya bagi kehidupan manusia bukanlah merupakan dua hal yang dikotomis, bukannya ilmu Dien di satu lembah dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat lainnya di lembah yang lain.
Kurikulum Islam total dirancang sebagai upaya untuk menjadikan generasi penerus yang bertaqwa kepada Allah secara total dan komprehensif. Peradaban dan kebudayaan Islam memiliki beberapa keungulan, yaitu : (1) mencakup makna dan nilai dasar serta keindahan peradaban; (2) mengajarkan agar kita selalu mengambil pelajaran dari alam sebagai suatu sistem ciptaan Allah yang maha sempurna; (3) memandang segala sesuatu atau peristiwa sebagai tanda kebesaran Allah; (4) manusia sebagai mahluk memaknakan dirinya sebagai orang yang mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada sang Pencipta; (5) akal pikiran manusia memiliki kebebasan namun tetap tunduk kepada Risalah Ilahiyah sebagai nurun ’ala nurin, cahaya atas cahaya.
Dengan demikian maka pengertian kurikulum dalam hal ini adalah segala sesuatu yang direncanakan untuk mencapai terwujudnya generasi Islam yang memiliki peradaban Islam bermutu dalam segala bidang kehidupan untuk rahmatan lil alamin sebagaimana amanah yang harus dipikul oleh umat manusia dan sebagai khalifah di alam semesta.
Alam adalah objek pengetahuan; sains adalah metodologi pengetahuan. Keduanya tak terpisahkan agar pengetahuan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan luhur, menjadi rahmat bagi seluruh alam dan lebih meningkatkan ketaqwaan. Kejayaan Islam sangat ditentukan oleh keberhasilan penguasaan pengetahuan ini.
Tujuan dari konsep ini adalah generasi Islam memiliki ahlak mulia terhadap diri sendiri, orang lain, dan terhadap alam semesta. Oleh karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat manusia lainnya; dan sebaik-baik di antaramu adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya khairukum man ta’allamal qur’an wa ’allamahu (HR Utsman dan Ali).
Islam sebagai agama rahmat memberi peluang kepada manusia untuk mengembangkan diri berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Pengembangan diri berdasarkan wahyu merupakan cita-cita Al-Quran. Pengembangan diri tersebut merupakan bagian dari wahyu ketuhanan. Karena dalam al-Quran terdapat perintah untuk mengubah diri, perintah untuk banyak membaca, perintah untuk berfikir. Perintah tersebut mengindikasikan bahwa manusia diajarkan untuk mampu menempa diri dan mengembangkan bakat yang ada dalam dirinya. Tetapi perintah untuk berfikir, mengembangkan diri hanya tinggal konsep. Karena semua konsep tentang pengembangan diri, konsep dasar pendidikan Islam tidak digali dan dikembangkan untuk kemajuan pendidikan Islam.
Menurut Ali Asraf pendidikan adalah sebuah aktivitas yang memiliki maksud tertentu, diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya. Lebih lanjut Ali Asraf menyatakan bahwa konsep pendidikan Islam tidak dapat dipahami tanpa terlebih dahulu memahmai penafsiran Islam tentang pengembangan individu sepenuhnya. Manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Dalam Al-Quran Allah menjelaskan tentang nama-nama benda, mengajarkan norma-norma kepada mansuia pilihan yaitu para Nabi. Norma norma dan prinsip-prinsip serta metode-metod etentang pembelajaran dan pengetahuan telah Allah turunkan melalui wahyu. Firman Allah merupakan sumber hukum untuk dipatuhi manusia.
Konsep pendidikan Islam dapat secara praktis diwujudkan melalui kurikulum, yang harus dirumuskan pertama untuk menjamin bahwa buku-buku teks yang tepatlah yang dihasilkan. Hal –hal yang hendaknya diperhatikan dalam menyusun kurikulum Islam adalah, pertama, konsep Islam tentang manusia sangat luas. Kedua, pengetahuan adalah sumber kemajuan dan perkembangan, Islam tidak membatasi pencapaian pengetahuan. Ketiga, besarnya penilikan harus konprehensif. Keempat, aspek spiritual, moral, intelektual, imajinatif dan fisik dan kepribadian seseorang harus perhatikan ketika membuat interelasi antara berbagai disiplin.
B. KERANGKA DASAR
1. Kelompok Mata Pelajaran dan cakupannya
Selain tujuan dan cakupan kelompok mata pelajaran sebagai bagian dari kerangka dasar kurikulum, perlu dikemukakan prinsip pengembangan kurikulum.

1. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
1. Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
1. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
1. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
1. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

1. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sekolah Dasar Islam Terpadu berupaya menerapkan azas-azas kurikulum yang benar, kontinyu, afektif, integratif, seimbang, dan proporsional, dengan memperhatikan azas peadogogis da psikologis. Untuk itu, selain prinsip sebagaimana tertuang dalam Permen No. 22 tahun 2006 tentang Standar isi sebagaimana diatas, untuk mengembangkan kurikulum, SD Islam Sabilillah Malangjuga berpegang pada prinsip :

h. Jelas dan Benar
Kurikulum Sekolah Dasar Islam Terpadu dalam berbagai deviatnya harus jelas rumusan dan rinciannya. Semua itu harus dipahami dan dimengerti oleh yang menggunakannya (kepala sekolah, guru, pembina, dan orang tua) sehingga dalam pelaksanaannya menjadi mudah untuk di kontrol dan dievaluasi.
1. Tertib dan Kontinyu
Kurikulum Sekolah Dasar Islam Terpadu harus tertib dan kontinyu dalam mengajarkan pokok bahasan kepada peserta didik. Artinya setiap pokok bahasan disampaikan berjenjang dan berkelanjutan dalam suatu susunan yang tertib, sesuai dengan tingkat usia dan kematangan psikologis. Tidak ada meteri yang terputus atau lompat-lompat dalam urutan yang kacau.
1. Efektif dan Efisien
Sekolah Dasar Isam Terpadu harus berjalan efektif, setiap program harus mendapatkan evaluasi ketat untuk mencapai hasil optimal, dengan pola penatan jadwal kegiatan yang efisien. Dengan supervisi dan evaluasi yang teatur dan sistematis, Sekolah Dasar Islam Terpadu diharapkan akan mampu meraih terget belajar yang telah ditentukan.
1. Seimbang dan Proporsional
Sekolah Dasar Islam Terpadu harus memperhatikan keseimbangan antara jiwa, fikiran, fisik. Program pegajaran dikemas sedemikian rupa sehingga mampu menjangkai dan memenuhi kebutuhan jiwa, akal pikiran, dan fisik tersebut. Disamping itu setiap program pengajaran mesti memperhatikan bobot dan volume muatan bahasan sedemikian rupa agar proporsional dan sesuai dengan tingkat usia dan kematangan psikologis sehingga semua berjalan sesuai dengan fitrah basyariyah (kemanusiaan).
1. Integratif dan Menyeluruh
Sekolah Dasar Islam Terpadu harus mengintegrasikan segala aspek yang akan menunjang tujuan itu sendiri, dan memberikan berbagai kemampuan dasar yang lengkap dan menyeluruh kepada peserta didik. Keterpaduan tersebut meliputi :
• Nilai dan pesan, dalam arti bahwa setiap sudut pendidikan selalu dilihat dan dikemas berdasarkan ajaran Islam. Dengan demikian, pelajaran umum (ilmu alam, ilmu sosial, maupun ketrampilan) juga disampaikan dalam bingkai nilai-nilai Islam. Demikian pula, pelajaran agama (aqidah, akhlaq, fiqh dan sirah/sejarah) tidak dilepaskan dalam konteks hidup dan kehidupan di alam.
• Jangkauan pendidikan, setiap kegiatan pengajaran harus megoptimalkan sisi pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Artinya, kegiatan belajar-mengajar bukan hanya menitikberatkan pada sisi pengetahuan saja, tapi juga harus sampai pada pembentukan sikap yang positif, yang didalamnya terkandung makna suka dan senang, serta mampu diterapkan atau dilakukan dalam amal perbuatan.
• Penyelenggaraan pendidikan, bahwa penyelenggaraan pendidikan Sekolah Dasar Islam Terpadu mesti melibatkan peran orang tua dan masyarakat. Keterlibatan ini diwujudkan dalam rangka menciptakan konsistensi pola asuh asuh bagi anak didik yang diharapkan akan membantu mengoptimalkan tujuan pendidikan yang telah dicanangkan.
1. Struktur Kurikulum SD Islam Sabilillah Malang
Struktur kurikulum SD Islam Sabilillah Malang meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. Struktur kurikulum SD/MI disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran dengan ketentuan sebagai berikut.
a. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri seperti tertera pada Tabel 2.
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
1. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SD/MI merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”.
2. Pembelajaran pada Kelas I s.d. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada Kelas IV s.d. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran.
3. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan.
4. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit.
5. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu.
Struktur kurikulum SD/MI disajikan pada Tabel 2
METODE PEMBELAJARAN
a. Metode Pembiasaan (Habit Forming) yang konsisten dan terprogram ;
• Konsisten, dalam pembinaan akhlak, kemampuan berbahasa dan ritual ibadah
( pembiasaan : sholat tertib dan tepat waktu, minggu bahasa, bersikap dan bertutur kata yang sopan)
• Terprogram, menjalankan kegiatan pembinaan secara rutin dan periodik
( pembiasaan : perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan)
b. Metode Pembelajaran yang variatif, kreatif, inovatif, efektif dan aplikatif ;
• Variatif, dalam penggunaan berbagai media pembelajaran yang menunjang
( penggunaan lab. komputer, Internet, CD program interaktif dan lingkungan sekitar)
• Kreatif, mengemas sebuah pembelajaran yang menyenangkan
( merancang media atau pembelajaran yang memadukan belajar dan bermain edukatif )
• Inovatif, mengembangkan dan mengolah sumber belajar lebih dinamis
( mengolah dan mengembangkan sumber belajar menjadi lebih efektif sebelum disajikan )
• Efektif, dalam penggunaan media dan waktu belajar
( pemanfaatan media yang ada secara optimal dan alokasi waktu yang terbatas )
• Aplikatif, mudah digunakan dan dilaksanakan untuk pemahaman
( program pembelajaran yang disesuaikan dengan sumber daya, situasi dan kondisi sekolah )
c. Metode Empirik (Learning by Doing)
Melakukan pembelajaran praktek dalam laboratorium maupun di alam/lingkungan dengan penekanan siswa bereksperimen untuk dapat melakukan dan mengetahui.
d. Metode Amanah Kausatif
Digunakan untuk menanamkan sikap tanggungjawab bagi siswa akan apa-apa yang dikerjakan/dilakukan harus dipertanggungjawabkan secara individu maupun kelompok.
( penggunaan dan perawatan fasilitas sekolah, program sholat berjamaah, pergaulan dengan teman )
e. Metode Pendekatan Personal (Human Aproach)
Digunakan untuk mengatasi permasalahan individu dengan individu maupun kelompok dalam pergaulan sekolah, pembelajaran klasikal agar tercipta suasana yang kondusif.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: